Wednesday, June 4, 2025

"Belajar Diam dari Musim yang Sepi"

 "Belajar Diam dari Musim yang Sepi"

Ada musim-musim dalam hidup yang terasa lengang. Tidak ada riuh pencapaian, tidak ada agenda besar yang harus dikejar. Hari-hari berjalan perlahan, kadang sunyi, kadang membingungkan. Di masa-masa seperti itu, saya dulu sering merasa gelisah—seperti kehilangan pegangan, seolah hidup harus selalu penuh gerak dan hasil. Tapi seiring waktu, saya mulai memahami: justru dalam musim yang sepi, hidup sedang mengajar saya tentang sesuatu yang lebih dalam—diam.

Diam yang bukan berarti berhenti, tetapi memberi ruang. Diam yang bukan kelemahan, tetapi bentuk kehadiran yang utuh terhadap diri sendiri. Seperti bumi yang tak selalu berbunga, atau langit yang tak selalu cerah, saya pun belajar menerima musim sepi sebagai bagian alami dari perjalanan. Karena dalam sepi itu, terdengar suara hati yang selama ini tenggelam dalam keramaian. Dan dari situlah saya mulai mendengar dengan cara yang baru—lebih jujur, lebih tenang.

Kini saya bisa berkata: saya sedang menikmati kemerdekaan. Bukan kemerdekaan karena jabatan atau kuasa, tapi kemerdekaan dalam menentukan ritme hidup sendiri. Saya bisa memilih naik kendaraan umum, berjalan kaki, atau naik kereta tanpa merasa harus tampil ‘berdaya’ dengan kendaraan pribadi. Tidak harus mengejar kenyamanan semu, justru saya menemukan kenikmatan dalam hal-hal sederhana: makan di warung kecil yang bersih, menginap di homestay yang ramah, mengenakan pakaian yang nyaman sesuai selera, bukan karena merek atau harga.

Saya menyadari bahwa semakin sederhana pilihan hidup saya, semakin besar rasa syukur yang saya rasakan. Tidak ada lagi beban untuk tampil seperti yang diharapkan orang lain. Tidak ada keharusan untuk tinggal di hotel berbintang ketika bepergian. Tidak ada kegelisahan karena tidak makan di restoran ternama. Semua menjadi ringan, semua menjadi jujur. Dan ternyata, dalam kebebasan memilih yang tidak lagi dibebani gengsi, saya menemukan kembali diri saya yang utuh.

Apakah ini yang disebut merdeka? Mungkin iya. Merdeka bukan berarti bebas tanpa arah, tetapi bebas menentukan arah tanpa tekanan. Merdeka adalah ketika saya bisa berkata “cukup” tanpa merasa kekurangan. Ketika saya bisa berjalan pelan tanpa merasa tertinggal. Ketika saya bisa memilih jalan yang berbeda tanpa merasa bersalah.

Musim yang sepi tak lagi menakutkan. Ia justru menjadi musim terbaik untuk menanam kembali akar-akar makna. Dalam diam, saya belajar mendengar. Dalam kesederhanaan, saya menemukan kekayaan batin. Dalam ruang yang lapang, saya merengkuh rasa damai yang dulu terabaikan.


diah kirana, 4 Juni 2025

Agar Anak Tak Tersesat: Membangun Pola Pikir Keruangan Sejak Dini

 Judul: Agar Anak Tak Tersesat: Membangun Pola Pikir Keruangan Sejak Dini

Oleh: Diah Kirana Kresnawati

Sejak awal masa kerja saya di bidang geodesi, saya memendam cita-cita sederhana namun besar dampaknya: bagaimana agar masyarakat terbiasa menggunakan peta dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, jika seseorang bisa membaca dan memahami peta, maka ia tidak akan mudah tersesat. Bukan hanya tersesat secara geografis, tetapi juga dalam arti yang lebih luas—ia tahu di mana posisinya, apa yang ada di sekelilingnya, dan ke mana ia hendak melangkah.

Berangkat dari keyakinan itu, saya berpikir bahwa pembiasaan terhadap peta sebaiknya dimulai sejak dini. Anak-anak yang dikenalkan pada konsep keruangan sejak kecil akan tumbuh menjadi individu yang mampu berpikir sistematis, mengenali lingkungan secara utuh, dan memiliki orientasi yang kuat terhadap arah dan tujuan. Mereka belajar bukan hanya tentang arah mata angin, tetapi juga tentang mengenali pola, membuat keputusan berdasarkan informasi spasial, dan mempertimbangkan konteks sebelum melangkah. Ketika anak terbiasa berpikir keruangan, mereka akan lebih peka terhadap perubahan lingkungan, serta memiliki kemampuan untuk menyusun strategi berdasarkan data dan kondisi nyata di sekitarnya.

Untuk itu, saya mulai merancang berbagai kegiatan sederhana yang memperkenalkan peta kepada anak-anak. Saya membuat permainan, lomba, dan aktivitas edukatif lainnya yang dikemas menyenangkan. Ada lomba menggambar peta sekolah, permainan mencari harta karun berbasis peta, hingga kegiatan mengenal peta desa tempat tinggal mereka. Harapan saya sederhana: agar mereka tumbuh akrab dengan peta, merasa bahwa peta itu menyenangkan dan bermanfaat. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan rasa ingin tahu, tetapi juga mengasah kemampuan problem solving dan komunikasi dalam kelompok.

Namun, kenyataan di lapangan tak selalu sejalan dengan harapan. Usaha membumikan pemahaman peta kepada anak-anak dan masyarakat masih menghadapi banyak tantangan. Di negara kita, pembelajaran spasial belum menjadi bagian yang kuat dalam kurikulum dasar. Bahkan dengan hadirnya teknologi seperti Google Maps, mindset keruangan belum otomatis terbentuk. Banyak orang masih tersesat, secara harfiah maupun dalam pengambilan keputusan sehari-hari, karena belum terbiasa memahami posisi dan konteks sekitarnya. Di samping itu, minimnya pelatihan bagi guru untuk mengajarkan konsep spasial secara praktis juga menjadi kendala tersendiri.

Padahal, kemampuan membaca peta bisa menjadi keterampilan hidup yang sangat penting. Ia mengajarkan kita berpikir sebelum melangkah, mengenali kondisi, dan menentukan strategi. Dalam dunia yang cepat berubah, kebiasaan untuk "melihat peta" sebelum mengambil keputusan menjadi sangat relevan. Entah itu peta fisik, peta mental, atau peta kehidupan. Ketika kita mampu memetakan pilihan dan mempertimbangkan risiko serta peluang di sekeliling kita, maka keputusan yang diambil pun lebih bijak dan terarah.

Saya percaya bahwa menumbuhkan pola pikir keruangan bukan hanya urusan teknis, tetapi juga kultural. Kita perlu membangun kebiasaan untuk mengenali, menelaah, dan menafsirkan ruang. Untuk itu, peran guru, orang tua, dan komunitas sangat penting. Jika anak-anak dibiasakan menggunakan peta sejak kecil, maka kelak mereka akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya tahu jalan, tetapi juga tahu arah hidupnya. Mereka akan memiliki kesadaran spasial yang berguna di berbagai bidang kehidupan—baik di perkotaan maupun di pedesaan, dalam profesi maupun kehidupan sosial sehari-hari.

Kini, saat saya menapaki masa pasca-pensiun, saya tetap membawa cita-cita itu. Meski tak semudah yang dibayangkan, saya percaya setiap langkah kecil tetap berarti. Mungkin belum bisa merubah sistem, tapi kita bisa menyalakan lilin-lilin kecil di hati anak-anak, agar mereka tumbuh tidak tersesat—baik di jalan, maupun dalam hidupnya. Bahkan satu anak yang tumbuh dengan pemahaman keruangan yang baik bisa menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya.

Karena sejatinya, mengenal peta adalah mengenal diri, mengenal arah, dan pada akhirnya: mengenal makna hidup itu sendiri. Sebuah peta bukan hanya sekadar gambar, tetapi jendela untuk memahami dunia dan posisi kita di dalamnya.

diah kirana 4 Juni 2025


Tuesday, June 3, 2025

Ketika Hidup Mengajarku Menjadi Lentur

 

Ketika Hidup Mengajarku Menjadi Lentur

 

Dulu aku menjalani hidup seperti menyusun barisan angka: lurus, tegas, dan tak boleh meleset. Aku percaya bahwa semua harus terbaik, teratur, dan sempurna. Kedisiplinan adalah nafas, ketepatan adalah harga diri. Aku memegang prinsip itu erat, seolah-olah hidup hanya akan berjalan jika semua sesuai aturan. Bahkan dalam hal-hal kecil, aku terbiasa merancang, mengatur, dan memastikan segalanya sesuai standar. Sedikit saja bergeser dari rencana, hatiku tidak tenang.

Sikap itu menjadikan langkahku terarah, tetapi sekaligus kaku. Aku mudah gelisah jika ada yang bergerak lambat atau tidak serius. Ada satu rekan kerja yang dari dulu selalu membuatku jengkel—ia tampak terlalu santai dalam bekerja, seolah hidup ini tak perlu dikejar. Bagiku, cara hidup seperti itu hanya akan menimbulkan masalah dan ketidakefisienan. Namun anehnya, ia selalu tampak tenang, tidak terbebani, dan justru lebih stabil secara emosi dibanding diriku yang sibuk mengatur segalanya.

Waktu berlalu, dan beberapa tahun menjelang pensiun, pikiranku mulai berubah. Tekanan kerja tak seberat dulu, tapi beban batin tetap ada. Di masa itu, aku justru mulai memperhatikan rekan yang dulu kupandang sebelah mata. Ternyata dia mampu menghadapi hari-hari yang berat dengan kesabaran dan senyum. Ia tetap menunjukkan tanggung jawab, tapi dengan irama yang damai. Aku yang dulu terlalu cepat menilai, perlahan merasa terinspirasi olehnya.

Aku mulai belajar diam-diam. Kuperhatikan bagaimana ia tidak mudah terseret emosi, bagaimana ia menerima perubahan tanpa banyak keluhan. Aku mencoba menirunya—mulai dari menyikapi hal kecil tanpa mengeluh, mengurangi ekspektasi, sampai memberi ruang bagi ketidaksempurnaan. Tidak mudah, tentu. Tapi saat aku mulai mencobanya, ada rasa lega yang sebelumnya tak pernah kurasakan. Aku merasa lebih ringan, lebih tenang, dan ternyata… tak ada yang rusak.

Dari sana aku mulai menjelajahi satu pertanyaan yang terus menggelayut di hati: bagaimana caranya hidup nyaman tanpa beban? Kata “ikhlas” begitu sering terdengar dalam ceramah atau tulisan-tulisan motivasi, tapi menghidupinya dalam keseharian bukan perkara gampang. Aku mulai memahami bahwa ikhlas bukan berarti menyerah, tapi justru menerima kenyataan dengan lapang, tanpa menyalahkan, tanpa berlarut dalam harapan yang menyiksa.

Bersamaan dengan itu, aku belajar berdamai dengan diri sendiri. Aku memaafkan banyak hal—kesalahan di masa lalu, harapan yang tak terwujud, bahkan ketidaksempurnaan diriku sendiri. Dulu aku selalu merasa harus kuat dan benar. Kini, aku membiarkan diriku lemah di waktu-waktu tertentu, dan ternyata dunia tidak runtuh karenanya. Justru dari kelembutan itu aku belajar mencintai hidup dengan cara yang lebih jujur.

Kini, aku tak lagi merasa perlu menilai segalanya. Aku menikmati hidup dengan cara yang lebih sederhana. Tidak terburu, tidak membandingkan, dan tidak mengukur segalanya dengan keberhasilan lahiriah. Hidup ini bukan soal menaklukkan, tapi merasakan. Dan untuk bisa merasakan dengan utuh, aku harus menjadi lentur—membuka hati terhadap segala kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk salah, gagal, dan belajar kembali.

Dan dari semua perjalanan itu, aku menyimpulkan satu hal yang kini menjadi peganganku: hidup ini memang indah. Keindahannya tidak hadir karena semuanya sempurna, tetapi karena aku belajar menerima apa adanya. Ketika aku berhenti menggenggam terlalu erat, saat itulah hidup menunjukkan wajahnya yang lembut. Ternyata, menjadi lentur bukan berarti lemah—justru di sanalah letak kekuatan yang paling sejati.

 

Diah Kirana, 4 Juni 2025

Sunday, June 1, 2025

Peta: Jejak Awal dan Nafas Kehidupan


Peta: Jejak Awal dan Nafas Kehidupan

Saya mengenal peta pertama kali bukan sebagai gambar di kertas, melainkan sebagai kunci pemahaman dunia. Itu terjadi saat saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Geografi UGM. Di sana saya belajar bahwa peta bukan sekadar alat bantu, tetapi cerminan cara berpikir — sistematis, terarah, dan penuh makna.

Setelah lulus, saya bergabung dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) saat ini bernama Badan Informasi Geospasial (BIG). Di lembaga inilah saya melihat bahwa peta memiliki kekuatan nyata dalam pembangunan. Peta bukan sekadar dokumen, tapi dasar keputusan. Di balik garis kontur dan simbol-simbol itu, ada perencanaan jalan, pengelolaan wilayah, bahkan ketahanan bangsa.

Sejak saat itu, peta menjadi bagian dari hidup saya.

Kemanapun saya pergi, peta adalah benda pertama yang saya cari. Bukan karena saya tersesat, tapi karena saya ingin tahu: Saya ada di mana?

Peta memberi saya rasa tenang. Ia seperti sahabat yang tak banyak bicara, tapi selalu membantu saya memahami ruang — dan kadang juga waktu.

Setelah pensiun dari tugas formal, saya tak menyangka akan dipanggil kembali, kali ini oleh dunia pendidikan. Saya diminta mengajar di Program Studi Teknik Geodesi Universitas Pakuan (Unpak). Meski latar belakang saya dari Ilmu Geografi, bukan Ilmu Geodesi, saya merasa dunia ini begitu akrab. Karena ternyata, meskipun pendekatannya berbeda, pemetaan tetaplah tentang memahami ruang dan menghargai detailnya.

Kini saya menyadari:

Sebagian besar hidup saya telah saya jalani bersama peta. Ia bukan sekadar alat kerja, tapi sudah menjadi cara hidup. Dunia pemetaan bukan hanya ada di tangan saya, tetapi juga telah tinggal di dalam pikiran dan hati saya.


-Diah Kirana K,2 Juni 2025-

Membangun Mindset Keruangan: Agar Tidak Tersesat di Dunia

 Membangun Mindset Keruangan: Agar Tidak Tersesat di Dunia

Pernah nggak sih, kamu merasa bingung melihat peta yang penuh simbol dan garis-garis? Atau malah pernah tersesat padahal sudah bawa peta? Kalau iya, itu tandanya kita perlu membangun mindset keruangan—cara berpikir yang membantu kita memahami posisi, jarak, dan hubungan antar tempat dengan jelas.

Di dunia Teknik Geodesi, mindset keruangan itu penting banget. Bukan cuma soal tahu baca peta, tapi bagaimana kita membayangkan ruang secara tiga dimensi, supaya nggak kebingungan saat bekerja di lapangan atau saat mengolah data.

Mindset ini akan membuat kamu lebih percaya diri dan tepat saat mengukur, memetakan, dan menganalisis wilayah. Jadi, belajar geodesi bukan cuma belajar angka dan alat, tapi juga cara berpikir yang bikin kita nggak “tersesat” dalam dunia nyata maupun data.

Mau tahu caranya membangun mindset keruangan yang kuat? 

Pertama, coba sering-seringlah berlatih membayangkan posisi dan hubungan antar objek di sekitar kamu. Misalnya, perhatikan letak gedung, jalan, dan pohon saat berjalan di kampus atau rumah. Coba bayangkan kalau kamu harus membuat peta sederhana dari tempat itu.

Kedua, biasakan membaca peta dengan perlahan, amati setiap simbol dan garis, dan coba kaitkan dengan kondisi nyata di lapangan. Semakin sering kamu latihan, semakin tajam “mata ruang” kamu.

Ketiga, jangan takut bertanya dan berdiskusi. Kadang, ngobrol dengan teman atau dosen tentang ruang dan peta bisa membuka wawasan baru yang membuat pemahaman kamu makin dalam.

Terakhir, ingatlah bahwa mindset keruangan bukan cuma soal teknik, tapi juga soal kesabaran dan ketekunan. Dunia geodesi adalah perjalanan yang penuh tantangan, tapi dengan sikap yang tepat, kamu pasti bisa menguasainya.

Teruslah belajar dan berlatih, karena dengan mindset keruangan yang kuat, kamu tidak hanya siap menghadapi mata kuliah dan praktikum, tapi juga siap menjelajahi dunia yang sebenarnya.

-Diah Kirana, 2 Juni 2025-

Teknik Geodesi: Lebih dari Sekadar Peta

 Teknik Geodesi: Lebih dari Sekadar Peta

Ketika mendengar kata “geodesi”, banyak orang langsung membayangkan peta. Memang benar, peta adalah hasil yang paling tampak dari pekerjaan geodesi. Tapi sebenarnya, teknik geodesi itu jauh lebih dari sekadar membuat peta.

Geodesi adalah ilmu yang mempelajari bentuk, ukuran, dan medan gravitasi bumi secara akurat. Melalui pengukuran yang teliti, para ahli geodesi membantu menentukan posisi dan perubahan permukaan bumi, yang kemudian dituangkan dalam berbagai bentuk data dan peta.

Peta yang kita lihat sehari-hari—baik di buku pelajaran, GPS di ponsel, maupun peta digital di komputer—adalah hasil dari proses panjang pengukuran dan pengolahan data geodesi. Tanpa ilmu geodesi, peta-peta tersebut tidak akan bisa menggambarkan dunia dengan tepat dan dapat dipercaya.

Selain itu, teknik geodesi juga berperan penting dalam pembangunan infrastruktur, mitigasi bencana, pemantauan perubahan lingkungan, dan banyak bidang lainnya. Jadi, peta hanyalah salah satu wajah dari geodesi yang luas dan kompleks.

Dengan memahami hal ini, mahasiswa Teknik Geodesi diajak untuk tidak hanya fokus pada peta, tetapi juga pada ilmu dan teknologi di baliknya. Sebab di sanalah letak tantangan dan keindahan geodesi—menghubungkan data, teknologi, dan kehidupan nyata dengan cara yang akurat dan bermakna.

Semoga tulisan ini bisa memberi gambaran awal yang jelas dan menginspirasi para pembaca, khususnya mahasiswa baru, untuk lebih mencintai dan memahami dunia geodesi yang penuh warna dan tantangan.

— Diah Kirana, 2 Juni 2025 —

Karakter Mahasiswa Geodesi Terasah Lewat Praktikum Lapangan

 Karakter Mahasiswa Geodesi Terasah Lewat Praktikum Lapangan

Sebagai dosen yang sudah lama mendampingi mahasiswa Teknik Geodesi, pengalaman di lapangan selalu memberi kesan mendalam bagi saya. Bukan hanya soal bagaimana mahasiswa mengoperasikan alat ukur dengan tepat, tetapi lebih dari itu, tentang bagaimana mereka belajar bekerja sama, saling menunggu, saling membantu, dan saling menguatkan saat menghadapi tantangan.

Lapangan bukan ruang kelas yang nyaman ber-AC. Di sana, mahasiswa diuji kesabaran dan emosi mereka. Mereka belajar menjaga komunikasi dalam kondisi yang kadang tidak ideal, menghadapi medan yang berat, serta bekerja dalam irama tim yang saling mengisi satu sama lain. Ada yang cepat menguasai aspek teknis, sementara yang lain unggul dalam koordinasi dan motivasi kelompok. Perbedaan itu menjadi kekuatan utama yang membawa tim berhasil.

Saat alat ukur mengalami kendala atau titik kontrol yang harus dicapai sulit ditemukan, tidak ada pilihan selain bekerja bersama. Keputusan harus diambil bersama dan kepercayaan antar anggota tim menjadi kunci utama. Ini bukan hanya tentang teknik, tapi juga tentang karakter yang terbentuk dalam situasi nyata.

Tanggung jawab terhadap data yang dihasilkan pun menjadi pelajaran berharga. Kesalahan kecil dalam pengukuran dapat berimbas hingga peta final yang dihasilkan. Saya selalu mengingatkan mahasiswa bahwa akurasi bukan hanya tentang alat yang digunakan, tapi juga tentang sikap: apakah mereka mencatat dengan teliti, dan apakah koordinat sudah diperiksa ulang. Lapangan mengajarkan kejujuran, terutama pada data yang mereka hasilkan sendiri.

Saya sering merenung bagaimana mereka berkembang. Dari sosok yang diam dan pasif di kelas, mereka berubah menjadi pribadi yang aktif, berani bertanya, bahkan memimpin diskusi kecil di bawah pohon. Sebagai dosen, saya pun belajar banyak—bahwa kesabaran, keuletan, dan semangat belajar tumbuh dari pengalaman lapangan yang nyata.

Geodesi bukan hanya soal jarak dan sudut, tetapi juga soal hati. Melalui praktikum lapangan, karakter seperti tanggung jawab, kepedulian, dan integritas dapat tertanam lebih dalam. Karena sesungguhnya, peta terbaik adalah yang ditarik dari pengalaman dan kejujuran.

Tulisan ini adalah bagian dari perjalanan saya dalam membuat ebook mini yang saya harap bisa menginspirasi mahasiswa baru Teknik Geodesi. Semoga cerita ini memberi gambaran betapa berwarnanya dunia geodesi dan betapa pentingnya karakter yang terbentuk di lapangan.

— Diah Kirana, 2 Juni 2025 —