"Belajar Diam dari Musim yang Sepi"
Ada musim-musim dalam hidup yang terasa lengang. Tidak ada riuh pencapaian, tidak ada agenda besar yang harus dikejar. Hari-hari berjalan perlahan, kadang sunyi, kadang membingungkan. Di masa-masa seperti itu, saya dulu sering merasa gelisah—seperti kehilangan pegangan, seolah hidup harus selalu penuh gerak dan hasil. Tapi seiring waktu, saya mulai memahami: justru dalam musim yang sepi, hidup sedang mengajar saya tentang sesuatu yang lebih dalam—diam.
Diam yang bukan berarti berhenti, tetapi memberi ruang. Diam yang bukan kelemahan, tetapi bentuk kehadiran yang utuh terhadap diri sendiri. Seperti bumi yang tak selalu berbunga, atau langit yang tak selalu cerah, saya pun belajar menerima musim sepi sebagai bagian alami dari perjalanan. Karena dalam sepi itu, terdengar suara hati yang selama ini tenggelam dalam keramaian. Dan dari situlah saya mulai mendengar dengan cara yang baru—lebih jujur, lebih tenang.
Kini saya bisa berkata: saya sedang menikmati kemerdekaan. Bukan kemerdekaan karena jabatan atau kuasa, tapi kemerdekaan dalam menentukan ritme hidup sendiri. Saya bisa memilih naik kendaraan umum, berjalan kaki, atau naik kereta tanpa merasa harus tampil ‘berdaya’ dengan kendaraan pribadi. Tidak harus mengejar kenyamanan semu, justru saya menemukan kenikmatan dalam hal-hal sederhana: makan di warung kecil yang bersih, menginap di homestay yang ramah, mengenakan pakaian yang nyaman sesuai selera, bukan karena merek atau harga.
Saya menyadari bahwa semakin sederhana pilihan hidup saya, semakin besar rasa syukur yang saya rasakan. Tidak ada lagi beban untuk tampil seperti yang diharapkan orang lain. Tidak ada keharusan untuk tinggal di hotel berbintang ketika bepergian. Tidak ada kegelisahan karena tidak makan di restoran ternama. Semua menjadi ringan, semua menjadi jujur. Dan ternyata, dalam kebebasan memilih yang tidak lagi dibebani gengsi, saya menemukan kembali diri saya yang utuh.
Apakah ini yang disebut merdeka? Mungkin iya. Merdeka bukan berarti bebas tanpa arah, tetapi bebas menentukan arah tanpa tekanan. Merdeka adalah ketika saya bisa berkata “cukup” tanpa merasa kekurangan. Ketika saya bisa berjalan pelan tanpa merasa tertinggal. Ketika saya bisa memilih jalan yang berbeda tanpa merasa bersalah.
Musim yang sepi tak lagi menakutkan. Ia justru menjadi musim terbaik untuk menanam kembali akar-akar makna. Dalam diam, saya belajar mendengar. Dalam kesederhanaan, saya menemukan kekayaan batin. Dalam ruang yang lapang, saya merengkuh rasa damai yang dulu terabaikan.
diah kirana, 4 Juni 2025