Peta:
Jejak Awal dan Nafas Kehidupan
Saya mengenal peta pertama kali bukan sebagai gambar di
kertas, melainkan sebagai kunci pemahaman dunia. Itu terjadi saat saya masih
menjadi mahasiswa di Fakultas Geografi UGM. Di sana saya belajar bahwa peta bukan sekadar alat bantu, tetapi
cerminan cara berpikir — sistematis, terarah, dan penuh makna.
Setelah
lulus, saya bergabung dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL)
saat ini bernama Badan Informasi Geospasial (BIG). Di lembaga inilah saya
melihat bahwa peta memiliki kekuatan nyata dalam pembangunan. Peta bukan
sekadar dokumen, tapi dasar keputusan. Di balik garis kontur dan simbol-simbol
itu, ada perencanaan jalan, pengelolaan wilayah, bahkan ketahanan bangsa.
Sejak saat itu, peta menjadi bagian dari hidup saya.
Kemanapun
saya pergi, peta adalah benda pertama yang saya cari. Bukan karena saya
tersesat, tapi karena saya ingin tahu: Saya ada di mana?
Peta
memberi saya rasa tenang. Ia seperti sahabat yang tak banyak bicara, tapi
selalu membantu saya memahami ruang — dan kadang juga waktu.
Setelah
pensiun dari tugas formal, saya tak menyangka akan dipanggil kembali, kali ini
oleh dunia pendidikan. Saya diminta mengajar di Program Studi Teknik Geodesi
Universitas Pakuan (Unpak). Meski latar belakang saya dari Ilmu Geografi, bukan
Ilmu Geodesi, saya merasa dunia ini begitu akrab. Karena ternyata, meskipun
pendekatannya berbeda, pemetaan tetaplah tentang memahami ruang dan menghargai
detailnya.
Kini saya menyadari:
Sebagian besar hidup saya telah saya jalani bersama peta. Ia bukan sekadar alat kerja, tapi
sudah menjadi cara hidup. Dunia pemetaan bukan hanya ada di tangan saya, tetapi
juga telah tinggal di dalam pikiran dan hati saya.
-Diah Kirana K,2 Juni 2025-
No comments:
Post a Comment