Sunday, June 1, 2025

Peta: Jejak Awal dan Nafas Kehidupan


Peta: Jejak Awal dan Nafas Kehidupan

Saya mengenal peta pertama kali bukan sebagai gambar di kertas, melainkan sebagai kunci pemahaman dunia. Itu terjadi saat saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Geografi UGM. Di sana saya belajar bahwa peta bukan sekadar alat bantu, tetapi cerminan cara berpikir — sistematis, terarah, dan penuh makna.

Setelah lulus, saya bergabung dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) saat ini bernama Badan Informasi Geospasial (BIG). Di lembaga inilah saya melihat bahwa peta memiliki kekuatan nyata dalam pembangunan. Peta bukan sekadar dokumen, tapi dasar keputusan. Di balik garis kontur dan simbol-simbol itu, ada perencanaan jalan, pengelolaan wilayah, bahkan ketahanan bangsa.

Sejak saat itu, peta menjadi bagian dari hidup saya.

Kemanapun saya pergi, peta adalah benda pertama yang saya cari. Bukan karena saya tersesat, tapi karena saya ingin tahu: Saya ada di mana?

Peta memberi saya rasa tenang. Ia seperti sahabat yang tak banyak bicara, tapi selalu membantu saya memahami ruang — dan kadang juga waktu.

Setelah pensiun dari tugas formal, saya tak menyangka akan dipanggil kembali, kali ini oleh dunia pendidikan. Saya diminta mengajar di Program Studi Teknik Geodesi Universitas Pakuan (Unpak). Meski latar belakang saya dari Ilmu Geografi, bukan Ilmu Geodesi, saya merasa dunia ini begitu akrab. Karena ternyata, meskipun pendekatannya berbeda, pemetaan tetaplah tentang memahami ruang dan menghargai detailnya.

Kini saya menyadari:

Sebagian besar hidup saya telah saya jalani bersama peta. Ia bukan sekadar alat kerja, tapi sudah menjadi cara hidup. Dunia pemetaan bukan hanya ada di tangan saya, tetapi juga telah tinggal di dalam pikiran dan hati saya.


-Diah Kirana K,2 Juni 2025-

No comments:

Post a Comment